Barru, 27 Oktober 2025_Warga Desa Nepo, Kecamatan Mallusetasi, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, kembali bergotong royong membangun jembatan darurat penghubung antar dusun yang ambruk untuk kedua kalinya akibat banjir besar yang melanda wilayah tersebut setelah hujan deras mengguyur semalaman.
Jembatan darurat yang menjadi satu-satunya akses utama antara Dusun Pakka dan Dusun Mareppang itu kembali roboh diterjang derasnya arus air dari kaki Gunung Lampe’e. Sejak pagi hari, puluhan warga—baik laki-laki maupun perempuan—turun tangan bahu-membahu memperbaiki jembatan agar akses antar dusun bisa kembali dilalui. Mereka memanfaatkan bahan seadanya seperti batang bambu, kayu gelondongan, dan papan bekas untuk dijadikan lantai jembatan.
Menurut warga setempat, pembangunan jembatan darurat ini sudah dilakukan dua kali sejak Desember 2024. Namun karena material yang digunakan sederhana dan bersifat sementara, konstruksinya mudah rusak setiap kali hujan deras menyebabkan sungai meluap. Meski demikian, semangat gotong royong masyarakat tetap tinggi demi menjaga kelancaran aktivitas sehari-hari.
“Kalau jembatan ini putus, anak-anak sekolah kami tidak bisa lewat, guru-guru juga kesulitan datang mengajar di SD Pakka. Di samping itu, hasil pertanian kami sulit dijual. Jadi kami terpaksa membangun lagi, meski hanya secara darurat,” ujar salah seorang warga Dusun Mareppang.
Banjir yang melanda wilayah Mallusetasi, khususnya Desa Nepo, disebabkan oleh tingginya intensitas hujan dalam beberapa hari terakhir di seluruh wilayah Kabupaten Barru. Akibatnya, debit air di daerah aliran sungai (DAS) meningkat tajam dan meluap hingga merendam sejumlah pemukiman serta lahan pertanian warga. Beberapa titik jalan penghubung antardusun juga mengalami kerusakan parah, termasuk ruas Watang Nepo–Mareppang yang saat ini tidak dapat dilalui kendaraan.
Berdasarkan pantauan tim Dimensi TV di lapangan, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa banjir kali ini. Namun, beberapa hewan ternak milik warga dilaporkan hanyut terbawa arus. Sebagian lahan pertanian juga terendam air sehingga menghambat jadwal musim tanam jagung yang seharusnya sudah dimulai. Kondisi ini membuat warga semakin waspada menghadapi musim hujan yang diperkirakan masih berlangsung dalam beberapa waktu ke depan.
Kepala Dusun Pakka menyampaikan harapannya agar pemerintah daerah dan instansi terkait segera meninjau lokasi serta menindaklanjuti pembangunan jembatan permanen yang lebih kokoh. Ia menegaskan bahwa jembatan tersebut merupakan akses vital bagi masyarakat, terutama bagi pelajar, guru, dan petani yang setiap hari melintasi jalur tersebut.
“Kami berharap pemerintah tidak hanya melihat ini sebagai bencana kecil. Jembatan ini sangat penting. Kalau terus dibiarkan seperti ini, warga akan selalu terisolasi setiap musim hujan tiba,” ungkapnya.
Sementara itu, pemerintah desa setempat mengimbau seluruh warga agar tetap waspada terhadap potensi banjir susulan, mengingat curah hujan di wilayah Barru diperkirakan masih tinggi dalam beberapa hari mendatang. Warga juga diingatkan untuk tidak beraktivitas di sekitar sungai saat hujan deras guna menghindari risiko arus banjir mendadak.
Semangat gotong royong masyarakat Desa Nepo menjadi bukti nyata kepedulian dan solidaritas warga dalam menghadapi bencana alam. Meski dengan keterbatasan bahan dan peralatan, mereka tetap berupaya menjaga jalur penghubung agar kehidupan serta aktivitas sosial dan ekonomi desa dapat terus berjalan seperti biasa.









