POLEWALI MANDAR, REFORTASE.ID – Dewan Pengurus Daerah (DPD) Kerukunan Keluarga Besar (KKB) Yang Mulia I Manyambungi Todilaling sukses melaksanakan kegiatan Silaturahim dan Pengukuhan DPD KKB Todilaling yang berlangsung secara adat, khidmat, dan penuh makna. Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam mempererat hubungan kekeluargaan serta memperkuat komitmen pelestarian nilai-nilai budaya dan sejarah keturunan Todilaling.
Acara tersebut dihadiri secara lengkap oleh perangkat adat Kerajaan Balanipa, yakni Adaq Matoa Kerajaan Balanipa, Pukkali Balanipa (Drs. Muhyiddin Toppo), Arayang Balanipa ( Andi Harun Rasjid Parenrengi, S.Sos.,M.Si/Puang Cino), maraqdia matoa ( Andi Malik Sjam & Hj. bau Ila ) Paqbicara Kaeyyang (Andi Parial Patajangngi & Andi Fatmawati Patajangngi) Paqbicara Kenje (Muhammad As’ad Anwar & Hj. Sitti Asriah Anwar, Bc.Ku) Pepuangan Limboro ( Drs. mahyuddin Ibrahim/ Puang Ki’ding) , Pepuangan Biring Lembang (Aco Nata Saputra &
Nur Mabrurah) , dan Pepuangan Tenggelang ( Rochyat Hasan, Bc.Ku & Hj. Nurmadina, S.Pd.,M.Pd)Hadir pula perangkat adat Banua Kaeyyang, yaitu Pappuangan Napo ( Andi Aman & Derling ) Pappuangan Todang ( M. Dahlan) dan Pappuangan Samasundu yang turut memberikan legitimasi adat terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut.
Selain para pemangku adat, kegiatan ini juga dihadiri oleh sejumlah tokoh masyarakat dan bangsawan Mandar, di antaranya Maraqdia Alu, Arung Galang-Galang, Arung Binuang, Ketua KKB Mateng, serta sekitar 250 orang kerabat dan Taruna Todilaling dari berbagai wilayah. Kehadiran para tokoh dan keluarga besar Todilaling menunjukkan kuatnya semangat persatuan dan silaturahim yang terus terjaga di tengah masyarakat Mandar.
Rangkaian kegiatan diawali dengan prosesi **Pemanna** sebagai bentuk penjemputan dan penghormatan kepada perangkat adat yang hadir. Suasana semakin semarak dengan penampilan Pattuqdu Losa-Losa yang dibawakan oleh Komunitas Budaya Banua Kaeyyang. Tarian tradisional tersebut menjadi simbol penghormatan sekaligus penyambutan bagi para tamu dan perangkat adat yang hadir dalam kegiatan tersebut.
Pada kesempatan yang sama, budayawan Mandar, Adil Tambono, membacakan sejarah Yang Mulia I Manyambungi Todilaling sebagai upaya memperkuat pemahaman generasi muda terhadap jejak sejarah dan nilai perjuangan leluhur. Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan lantunan lagu bertajuk I Manyambungi Todilaling yang dibawakan oleh Takbir DA5. Lagu tersebut diharapkan menjadi media penguatan identitas dan kebanggaan bagi garis keturunan Todilaling.
Puncak kegiatan diisi dengan orasi budaya bertema” Sipessulekkangan Sipoma’gia” yang disampaikan oleh budayawan Ahmad Asdy. Dalam orasinya, ia menekankan pentingnya menjaga persaudaraan, memperkuat solidaritas, serta merawat warisan budaya sebagai fondasi kehidupan masyarakat Mandar. Kegiatan kemudian ditutup dengan peluncuran buku terbaru berjudul “Todilaling”yang diharapkan menjadi referensi penting dalam mendokumentasikan sejarah, nilai-nilai budaya, dan jejak ketokohan Yang Mulia I Manyambungi Todilaling.
Ketua panitia menyampaikan bahwa kegiatan silaturahim dan pengukuhan ini bukan hanya seremoni organisasi, tetapi juga menjadi ruang pertemuan lintas generasi untuk memperkuat ikatan kekeluargaan, meneguhkan identitas budaya, serta memastikan nilai-nilai luhur warisan leluhur tetap hidup dan diwariskan kepada generasi penerus. Melalui semangat “ Sipessulekkangan Sipoma’gia” keluarga besar Todilaling diharapkan terus menjaga persatuan, saling mendukung, dan bersama-sama membangun peradaban yang berakar kuat pada adat dan budaya Mandar.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang rangkaian kegiatan berlangsung. Salah seorang tamu undangan menyampaikan bahwa kegiatan silaturahim dan pengukuhan DPD KKB Todilaling merupakan momen yang sangat dinantikan oleh masyarakat, khususnya keluarga besar keturunan Todilaling. Menurutnya, kegiatan seperti ini tidak hanya menjadi ajang mempererat hubungan kekeluargaan, tetapi juga memberikan kesempatan langka untuk menyaksikan secara langsung kehadiran dan struktur lengkap perangkat adat Matoa Kerajaan Balanipa dalam satu forum adat yang sakral.
“Jarang sekali kita dapat melihat perangkat adat Kerajaan Balanipa hadir secara lengkap dalam satu kegiatan. Kehadiran Adaq Matoa, Pukkali, Arayang, Paqbicara, hingga para Pepuangan menjadi pembelajaran yang sangat berharga bagi generasi muda untuk mengenal struktur adat dan kebesaran warisan budaya Mandar. Karena itu, kegiatan seperti ini sangat kami nantikan dan patut terus dilaksanakan,” ungkap salah seorang tamu undangan.
Ia juga berharap kegiatan silaturahim keluarga besar Todilaling dapat menjadi agenda berkelanjutan yang mampu memperkuat persatuan antarkerabat sekaligus menjadi ruang edukasi budaya bagi generasi penerus. Menurutnya, pelestarian adat dan sejarah tidak cukup hanya melalui cerita, tetapi juga melalui keterlibatan langsung dalam kegiatan-kegiatan budaya yang menghadirkan para pemangku adat sebagai sumber pengetahuan dan keteladanan.
Penulis : iwe
Editor : Adhy









