PINRANG — Harapan seorang anak untuk meraih masa depan yang lebih cerah terpaksa kandas di tengah jalan. Risna (13), murid SDN 255 Pinrang asal Desa Marawi Kabupaten Pinrang, terpaksa berhenti sekolah setelah hanya menamatkan pendidikan Sekolah Dasar (SD).
Keputusan pahit itu terpaksa diambil lantaran sang ayah Risna (Samade-red) yang selama ini bekerja sebagai tenaga kebersihan di pasar tradisional Marawi, kehilangan pekerjaannya. Sejak itu, ekonomi keluarga Risna semakin goyah.
Samade mengaku pasrah. Sejak pekerjaannya diambil alih oleh orang lain di pasar Marawi, ia hanya bisa mengandalkan pekerjaan serabutan yang hasilnya tidak menentu.
“Untuk makan saja sudah susah, apalagi biaya sekolah. Saya merasa gagal sebagai orang tua,” ucapnya dengan suara bergetar.
Risna sendiri sempat bercita-cita menjadi seorang guru agar bisa mendidik anak-anak di kampung tersebut. Namun, kini ia harus menahan keinginan itu. “Saya ingin sekolah lagi, tapi bapak tidak sanggup lagi. Saya bantu saja di rumah,” kata Risna sambil menunduk.
Pemerintah daerah sebenarnya telah menyiapkan program bantuan beasiswa bagi anak-anak kurang mampu. Namun, tidak semua keluarga miskin mampu mengaksesnya.
“Banyak orang tua yang tidak tahu prosedur pengajuan bantuan. Ini menjadi tantangan kami agar semua anak bisa tetap bersekolah,” ujar Samade
Sejumlah warga setempat, berharap ada uluran tangan dari pemerintah maupun para dermawan. “Kalau anak-anak seperti Risna tidak bisa sekolah, bagaimana masa depan desa ini? Kami khawatir mereka akan terjebak dalam kemiskinan turun-temurun,” tegasnya.
Kisah Risna menjadi pengingat bahwa di balik gencarnya program pendidikan gratis, masih banyak anak-anak Indonesia yang kehilangan kesempatan belajar hanya karena orang tuanya kehilangan pekerjaan.
Penulis : Narwadi
Editor : Adhy
Penulis : Adhy









