JAKARTA — Pernyataan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak bermasalah justru berpotensi memantik pertanyaan baru. Pasalnya, di tengah klaim tersebut, suara dari lapangan masih terdengar dari kalangan guru, orang tua hingga wartawan.
Bagi publik, pernyataan bahwa MBG berjalan tanpa masalah tentu menjadi kabar baik. Namun, persoalannya menjadi berbeda ketika terdapat keluhan atau sorotan dari pihak yang bersentuhan langsung dengan pelaksanaan program di sekolah.
Guru menjadi salah satu pihak yang setiap hari melihat bagaimana program tersebut berlangsung. Begitu pula orang tua yang memiliki kepentingan langsung terhadap makanan yang diterima anak-anak mereka.
Sementara wartawan menjalankan tugas untuk mengungkap informasi dan persoalan yang muncul di tengah masyarakat.
Karena itu, ketika suara-suara tersebut muncul, pertanyaan yang kemudian mengemuka bukan sekadar siapa yang paling berisik, melainkan apakah seluruh persoalan di lapangan sudah benar-benar didengar dan dievaluasi.
Program MBG merupakan program besar dengan penerima manfaat yang sangat luas. Semakin besar programnya, semakin besar pula kebutuhan terhadap pengawasan, transparansi, dan evaluasi.
Jika memang tidak ada masalah berarti, publik tentu membutuhkan penjelasan yang terbuka mengenai dasar penilaian tersebut. Sebaliknya, jika terdapat persoalan di sejumlah titik, keluhan tersebut juga semestinya menjadi bahan evaluasi, bukan sekadar dianggap sebagai kegaduhan.
Sebab kritik dari guru, orang tua maupun wartawan tidak otomatis berarti program MBG gagal. Namun, kritik juga tidak seharusnya langsung dianggap tidak penting.
Pada akhirnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan pernyataan bahwa MBG “tidak bermasalah”. Masyarakat membutuhkan bukti bahwa program tersebut benar-benar berjalan baik, makanan yang diberikan memenuhi standar, dan setiap keluhan ditangani secara serius.
Jika di tingkat atas disebut tidak ada masalah, sementara suara dari lapangan berkata lain, maka pekerjaan rumahnya adalah mempertemukan kedua perspektif tersebut dengan data dan fakta.
Penulis : Adhy









