MAKASSAR, REFORTASE.ID – Pengusaha nasional asal Sulawesi Selatan, HM Aksa Mahmud, mencatatkan babak baru dalam perjalanan Fajar Group setelah resmi menjadi pemegang saham terbesar PT Fajar Indonesia Corporindo. Langkah tersebut dinilai sebagai momen bersejarah karena kepemilikan perusahaan media yang lahir dari tangan putra-putra Sulawesi Selatan tetap berada di tangan tokoh daerah.
Dengan kepemilikan saham mencapai 49,88 persen, Aksa Mahmud mengambil alih saham yang sebelumnya dimiliki Jawa Pos dan Dorothea Samola. Dalam keterangannya, ia menegaskan bahwa keputusan tersebut bukan semata-mata investasi bisnis, melainkan upaya menjaga sejarah, nilai, dan cita-cita yang dibangun oleh tiga pendiri Harian Fajar, yakni almarhum HM Alwi Hamu, HM Jusuf Kalla, dan dirinya sendiri.
“Saya ingin Fajar tetap berada dalam suasana kekeluargaan dan semangat para pendiri tetap terjaga,” demikian esensi pernyataan Aksa Mahmud dalam konferensi pers di Makassar.
Keputusan itu dipandang sebagai simbol bahwa perusahaan besar yang lahir dari Sulawesi Selatan dapat terus dipertahankan oleh putra daerah. Di tengah berbagai perubahan kepemilikan perusahaan media nasional, Fajar Group tetap memiliki keterikatan kuat dengan sejarah dan tokoh-tokoh yang membangunnya sejak awal.
Aksa Mahmud juga mengungkapkan bahwa sebelum memutuskan membeli saham tersebut, kesempatan terlebih dahulu ditawarkan kepada pihak keluarga almarhum HM Alwi Hamu. Namun karena belum memungkinkan untuk mengambil alih, ia akhirnya memutuskan membeli seluruh saham yang dilepas agar kepemilikan perusahaan tidak berpindah ke pihak lain.
Fajar Group selama ini dikenal sebagai salah satu kelompok media terbesar di kawasan Indonesia Timur dengan lini usaha yang mencakup media cetak, media digital, televisi, radio, pendidikan, properti, hingga berbagai sektor bisnis lainnya.
Melalui perubahan struktur kepemilikan ini, Aksa Mahmud berharap Fajar Group tetap mempertahankan independensi jurnalistik, mempercepat transformasi digital, serta melanjutkan visi besar yang telah dirintis para pendirinya agar tetap relevan menghadapi perkembangan industri media di masa depan.
Langkah tersebut sekaligus menjadi pesan bahwa warisan usaha yang dibangun oleh tokoh-tokoh Sulawesi Selatan dapat terus dijaga dan dikembangkan oleh generasi daerah sendiri, tanpa kehilangan nilai sejarah yang telah melekat selama puluhan tahun.
Jika diinginkan, saya juga bisa menulis versi yang lebih bergaya feature, opini, atau berita koran dengan nuansa yang lebih dramatis namun tetap berbasis fakta.
Penulis : Narwadi
Editor : Adhy









